Poker Terpercaya - Sabtu kliwon 25 Oktober 2013 bertepatan dengan bulan Purnama Kapat dalam penanggalan Hindu. Hari dimana kuburan nenek harus di bongkar agar jasadnya dapat di kremasi setelah konon selama 40 tahun dikebumikan. Selepas maghrib hari itu, semua keluarga berangkat ke pasetran atau di sebut dengan kuburan terus mencabut nisan-nisan dan mulai menggali kuburan hingga menemukan tulang-belulang dan tengkorak.
Di kisahkan oleh adik nenek. Aku memanggilnya kakek yang mengatakan kalau semasa hidup nenek yang pernah berjaya dalam berdagang. Memiliki 11 orang anak tentu menjadi beban berat bagi orang tua untuk menghidupi anak-anaknya. Tapi tidak bagi nenek karena nenek adalah pedagang yang tekun.
Di kisahkan oleh adik nenek. Aku memanggilnya kakek yang mengatakan kalau semasa hidup nenek yang pernah berjaya dalam berdagang. Memiliki 11 orang anak tentu menjadi beban berat bagi orang tua untuk menghidupi anak-anaknya. Tapi tidak bagi nenek karena nenek adalah pedagang yang tekun.
Poker Online - Segala jenis kain dia perjual belikan dengan menaiki pedati di tarik lembu jantan. Hidupnya makmur hingga menimbulkan kedengkian pada hati saudara-saudaranya. Kata kakek kalau nenek aku di santet dan di dalam perutnya itu ada ular yang menggeliat-geliat tiap malam Legi dan Wage. Karena nenek aku tidak tahan dengan ular yang di perutnya maka nenek pun mengambil gayung tempurung kelapa.
Lalu di ketukan ke perutnya maka ular yang ada di dalam perutnya itu akahn berhenti bergerak sementara. Dan kata kakek kalau nanti aku menemukan 2 bilah pusaka yang ada di dalam pelukan tengkorak nenek aku itu maka aku di suruh untuk mengambil dan membawa pulang ke rumah. Dua bilah pusaka itu dikisahkan adalah pusaka nenek semasa hidupnya.
Sebilah keris luk 9 dan sebilah mata tombak. Sebelum ajal menjemputnya lewat derita santet itu nenek berpesan pada kakek.
“Adik, kalau aku mati nanti, 2 pusaka itu sertakan di atas dadaku di dalam kain kafan. Jangan gunakan batu atau tanah untuk bantalku tapi kayu leher lembu pedati”
“Untuk apa, kak?” tanya kakek
“Aku akan balas dendam, Dik. Kamu lihat saja. Sebelum 40 hari aku genap di kubur, orang-orang yang menyantet aku ini akan mati”.
Kakek hanya mengiyakan pesan nenek kala itu. Sore harinya nenek dinyatakan meninggal. Belum juga 40 hari setelah nenek meninggal, 4 orang saudaranya sendiri bahkan sepupu-sepupunya meninggal dengan keadaan yang tragis. Wajah pecah seperti di iris-iris. Dada dan jantung berlubang seperti di hujani tombak, kepala dan bahu lebam-lebam layaknya di hantam pukulan benda keras.
Poker Terkini - Cerita kakek pun berhenti di sana sebelum aku berangkat ke kuburan nenek. Bilah-bilah pusaka itu betul-betul aku temukan di dalam pelukan kerangka nenek. Aku menangkupkan kedua tangan menghormati nenek, seraya mengucapkan nenek, aku sudah mendengar cerita tentang nenek. Biar pusaka-pusaka ini aku bawa pulang. Dendam nenek sudah berpuluh tahun selesai. Agar nenek tenang di alam sana.
Sebelum aku angkat kerangka itu lebih dulu aku punguti pusaka itu. Bilah-bilah yang anyir dan terlihat sangat berkarat. Bahkan bekas kain kafan menempel di sana. Bekas darah juga. Kayu leher lembu pedati sudah tiada pastinya sudah hancur di makan masa di dalam kubur. Kerangka nenek di angkat, di sucikan kemudian di kremasi di Pura Prajapati malam itu di bawah asuhan sinar purnama.
Besoknya abu di larung di bibir pantai dan kakek menangis ketika melihat pusaka-pusaka itu aku serahkan di dalam tas kresek warna hitam. Mungkin kakek teringat tentang masa-masa lalu ketika kakek menaruhnya di jasad nenek untuk membalas dendam.
“Lantas di apakan ini?” tanyaku.
“Besok sucikan, jamasi. Sekarang taruh saja di belakang rumah. Jangan di dalam rumah”.
Aku melakukan seperti kata kakek. Kebetulan di rumah sedang berkumpul adikku, istrinya dan anaknya yang masih balita. Membawa serta mainan-mainan. Malam itu sangat mengerikan. Mainan-mainan itu beterbangan dan berbunyi sendiri. Padahal baterainya sudah habis tenaganya.
“Tolong nak, tolong” suara tanpa rupa merengek-rengek dari belakang rumah.
“Itu suara nenekmu” kakek ikut terbangun sambil berkaca-kaca matanya.
Pusaka itu tidak bisa bersih ketika di jamas. Jeruk nipis, mengkudu, air kelapa muda bahkan sabun cuci piring sudah aku gunakan. Kain kafan dan darah itu tetap menempel pada bilahnya.
“Rainan Galungan hari rabu lusa aku larung saja pusaka ini, kakek. Di laut tempat abu nenek di sebar”.
“Tidak apa-apa. Larunglah. Bekas darah memang tidak baik di piara. Sementara, biar pusaka-pusaka ini aku pendam di belakang rumah dan di bawah pohon srigading”.
Agen Poker - Tanggal 28 Oktober 2013 dan di jam 10.00 WIB pagi. Aku pun menggali tempat itu tapi pusaka-pusaka itu telah raib tanpa jejak. Menghilang begitu saja dan bukan hanya itu saja seluruh penghuni rumah tidak tahu menahu. Tetap berangkat aku ke pantai dengan membawa bunga serta dupa.
“Raka tenggelam! Raka tenggelam!” kawan-kawanku berteriak mengejarku. Ombak tiba-tiba tinggi hendak menggulungku.
Tapi aku dapat berlari mengelak meninggalkan sebaran bunga dan dupa yang tertancap di pasir laut.
“Nenek apakah dendam nenek belum selesai?” batinku berbisik memandangi bunga yang timbul tenggelam bersama riak ombak.
“Nenek istri kakek belum mati. Ilmunya terlalu tinggi. Mungkin nenek baru akan tenang kalau istri kakek telah mati”.
“Maksud nenek apa?” tanyaku membalas kalimatnya.
“Istri kakek juga mempunyai andil pada kematian nenek”
“Menyantet?” pertanyaan aku yang berbinang-binang air mata.
“iya. rudi, nenek yang akan membalaskan dendam itu sampai istri dari kakek meninggal"
Aku pun mengatakan kepada nenek kalau sudah cukup balas dendamnya dan biarkan tuhan yang membalasnya. Nenek beristirahat yang tenang di alam sana dan sudah cukup nenek membalas dendamnya. Toh istri kakek juga sudah tua maka bentar lagi juga dia akan meninggal jadi aku mohon nenek beristirahat di alam sana dengan tenang.
Waktu aku sedang berbicara itu seperti ada yang memanggil aku, aku pun menoleh ke belakang kalau ada pintu yang bercahaya sedang menyinari aku dan nenek pun mengatakan kalau aku harus segera pergi ke pintu itu kalau tidak pintu itu tidak akan terbuka lagi. Aku pun langsung berpamitan dan menuju pintu yang bercahaya itu.
Dan waktu aku membuka mata, aku sudah di kelilingi oleh keluarga aku termasuk dengan istri kakek yang di dalam mimpi nenek mengatakan kalau ilmunya sangat kuat. Dan karena aku sudah tidak apa-apa maka semua keluarga pun kembali ke rumahnya. Dan di saat itu aku pun berbicara kepada kakek kenapa nenek bisa minta tolong kepada kami semalam malam karena dendamnya masih belum selesai.
Terus kakek pun menanyakan dengan siapa lagi dendam nenek belum selesai dan aku pun mengatakan kalau dengan istri kakek, kakek yang saat itu terkejut pun menangis dan mengatakan kenapa istrinya bisa berbuat seperti itu terhadap nenek. Aku pun mengatakan kalau aku menyuruh nenek untuk istrihat dan jangan membalas dendam lagi.



0 Comments