Poker Terpercaya - Agus dan Alex mengajak saya untuk pulang melewati jalan lain. Jalan yang tidak biasanya kami lewati ketika pulang sekolah. Karena sekolah kami berada di dalam perumahan jadi banyak jalan untuk menujunya. Mengetahui hal itu saya pun tidak sungkan dengan ajakan mereka. Di jalan, Agus membelikan saya batagor karena saya telah mau menerima ajakannya.

Karena Alex iri jadi Agus kembali merogoh kantongnya dan membelikan Alex batagor. Kami lewat jalan berlawanan dari yang biasanya. Memang nantinya akan memutar tapi anggap saja ini untuk menghabiskan waktu diluar rumah. Di banding menonton televisi atau di depan komputer seharian, jalan-jalan seperti ini lebih menyenangkan.


http://54indo.com/ 





Poker Online - Banyak rumah yang tampak kusam di jalan yang kami lewati. Rumah yang tidak laku terjual dan tua di makan waktu. Pekarangan sudah di tumbuhi ilalang, seluruh cat tampak kusam, atap rumah banyak yang bolong dan kaca jendela banyak yang hilang. Ulah para berandal, mereka pasti mencuri dan menjualnya ke tukang rongsok.

Tidak jarang pada beberapa tembok ada coretan-coretan para berandal. Kebanyakan bertulis di sini ada setan. Semua rumah di jalan ini memang terlihat mengerikan. Kusam, dinding yang melapuk, ilalang yang memenuhi pekarangan, atap yang bolong-bolong, tidak perlu diragukan lagi.

Tiba-tiba Agus berlari menuju salah satu rumah di kiri kami. Pintunya terbuka karena menggantung timpang pada satu engselnya. Agus berbalik dan meneriakki kami berdua lelaki pengecut lalu dia masuk. Alex merampas topiku dan berlari menyusul Agus. Karena tpi saya di ambil sama Alex pun akhirnya saya pun ikut berlari dan melangkah masuk.
 
Poker Terkini - Saat pertama masuk ke dalam itu saya yakin kalau rumah ini pernah ditinggali bukan rumah rusak yang tak laku di jual. Pada dinding lorong yang saya lalui itu pun banyak sekali bingkai yang memuat foto perempuan. Pigura-pigura itu amat berdebu sehingga saya malas menyentuhnya.

Beberapa foto selalu menampakan wajahnya. Rambutnya di kepang dua dan berwarna pirang. Dia selalu tersenyum ketika di foto. Ketika makan, piknik, bermain piano dan pada satu foto dia sedang berdiri disamping rak pajangan. Banyak rekahan di lantainya, beberapa kali saya tersandung.

Tiba-tiba Agus berteriak dan saya tergopoh mencari asal suara. Alex yang berada di depanku berbelok dan masuk sebuah ruangan tak berpintu. Ketika saya melewatinya, Agus malah tertawa terbahak-bahak, mungkin karena berhasil mengerjai kami. Dia itu terus tertawa sampai akhirnya ada suara gedebuk dari ruang sebelah dan kami semua terdiam.

Alex berjalan keluar ruangan lebih dulu, di belakangnya saya lalu Agus. Kami memasuki ruang sebelah yang juga tidak berpintu. Kayu-kayu berserakan dan beberapa benda yang kukenal juga berserakan di atasnya. Benda-benda itu adalah pajangan di dalam foto terakhir tadi. Berarti kayu-kayu itu adalah rak pajangan yang lapuk lalu terlepas dari tembok.

Alex terkesan dengan salah satu pajangan yang berbentuk burung garuda sepertinya dari perak lalu Alex memasukannya ke tas. saya sudah memperingatkan sebelumnya tapi dia tidak menggubris dan kembali menemukan pajangan dari balik tumpukan kayu. “Hey lihat, pajangan dari perak lagi” Alex menunjukan pajangan gitar berwarna keperakan lalu dia kembali memasukannya ke tas.

Setelah puas dengan ruangan itu, kami menelusuri semua ruangan. saya jadi tahu tempat-tempat foto tadi di ambil. Ruang makan, ruang tamu, dan terakhir ruang kamar si perempuan dalam foto. Kamarnya sudah kosong, mungkin seluruh barang dalam kamar ini sudah di bawa saat mereka pindahan. Agus sudah bosan dan Alex sepertinya sudah puas mengambil barang, jadi kami bergegas pulang.

Agen Poker - Baru saja kami meninggalkan kamar, sesuatu kembali berdebam. Kami menoleh bersamaan, dinding kamar itu runtuh. Batu batanya masih berjatuhan ke lantai dan tampaknya tembok itu sangat tebal. Kenapa? Sebab itu bisa mengubur sebuah mayat. saya yakin itu kerangka manusia. Posisinya tengah meringkuk dan itu terjatuh dari rekahan tembok dan menimpa reruntuhan. Agus teriak sangat kencang sehingga memekakan teling saya. Alex membekap mulutnya. saya mendekati reruntuhan. Tulang-belulang itu memang kerangka manusia.

Kami mesti memberi tahu polisi. Kami bergegas keluar rumah namun sesuatu kembali menghalangi. Di ujung lorong yang jauh, di pintu keluar satu-satunya dari rumah ini, seseorang berdiri. Wajahnya pucat pasi dan sangat tirus, rambutnya yang pirang di kepang dua, amat tidak asing bagiku, dia perempuan di foto.

Dia berlari ke arah kami, Agus kembali teriak, saya menyentaknya menuju kamar tadi. Tapi ternyata tidak ada jendela. Ketika saya berbalik untuk mencari kamar lain, si perempuan kini melata di dinding, melata sangat cepat, mulutnya menganga lebar sampai bawah telinga.

Kami menuju dapur dan berlari ke pintu belakang. Alex paling belakang, dia terus berteriak kalau perempuan itu sudah makin cepat. “Dia melata di atas kita” Alex menyentak tanganku. saya mendongak dan melihat rambut perempuan yang berjumbai-jumbai itu dan dia melewati kami.

Dia melompat dan berdiri menghalangi pintu belakang. Mulutnya menganga dan dia kembali berlari. Kami memutar arah secepat-cepatnya. Jantungku hampir melompat keluar, saya melepaskan tangan Agus dan mendahului Alex. saya berada paling depan, melewati pintu dan berhasil keluar rumah. “Apa batagornya enak?” si perempuan menangkap kaki kedua temanku. saya terpaku diluar, memandangi Agus dan Alex yang terus berteriak karena kakinya di seret mahluk itu menuju kamarnya. Seseorang menepuk bahuku, saya menoleh.

“Kenapa kau masuk kedalam?” Alex penasaran.

“Kau tahu jika rumah ini sangat angker-kan?” Agus menimpali.

Ketidakmengertianku akan hal yang terjadi barusan sama besarnya dengan rasa bersyukurku karena mereka tidak apa-apa. saya menggeleng untuk keduanya, kupeluk mereka berdua “kita mesti lapor polisi”. Sehari setelah laporan kami, rumah itu di periksa polisi. Tulang belulang itu ternyata kerangka si perempuan berambut pirang.

Menurut polisi, perempuan itu sudah lama hilang. Kerangkanya kini sudah di makamkan. Beberapa minggu setelah itu, di meja belajarku ada sekantung plastik batagor dan kertas bertuliskan ‘terima kasih’. Kurasa perempuan pirang itu masih mengikutiku. Sampai sekarang saya tidak akan bakal lagi masuk ke rumah kosong dengan pintu yang terbuka.